enting piano mengalun indah mengiringi suara merdu yang bersenandung penuh penghayatan. Suara merdu beriringan dengan suara indah piano menyeruak seakan memenuhi ruangan itu. Jari-jari mungil menari-nari diatas tuts piano seakan mengiringi tetesan air mata dari mata bening itu. Seorang gadis muda itu bermain dengan mata terpenjam. Seakan-akan jari-jari indah itu menari dengan sendirinya tanpa kontrol. Mungkin, bagi yang mendengar akan ikut merasakan kepedihan hati sang gadis. Alunan melodi itu terasa menyayat hati.
Cintya. Gadis itu bernama Cintya. Lengkapya Cintya Kintan Piettras. Cintya seorang siswi di Taritta 8 Junior High School, sekolah bergengsi di Yogyakarta dengan gedung bernuansa modern namun tidak menghilangkan aksen Belanda peninggalan sejarah. Seorang siswi kelas 8-B, yang memiliki segudang prestasi gemilang untuk membanggakan orang tuanya. Yaah salah satunya, Cintya sering mengikuti kompetisi pianist. Tidak hanya prestasi di bidang musik, Cintya juga sering di ikutkan olimpiade matematika mewakili sekolahnya.
Tanpa disadari Cintya, ada seseorang yang menyaksikan permainannya. Saat tiba-tiba Cintya mengakhiri permainannya, orang itu mengeluh.
“yahh, kok berenti sih”
Cintya berbalik lalu tersenyum. “kan emang udah selesai lagunya, Sa.”
“emang udah selesai beneran lagunya? Kok gue gak ngrasa kaalo udah selesai sih?” kata orang yang dipanggil ‘sa’ itu.
“udah selesai kok, lo nya aja yang gak tau lagu itu, iya khan?”
“hehehe, iya juga. Gue belom pernah denger tu lagu sebelumnya. Emangnya itu lagunya siapa, Cin?” kata orang itu sambil nyengir.
“lagu buatan gue”
“what? Lagu lo yang keberapa nihh?”
“gatau deh lagu yang keberapa.”
“kenapa lagu-lagu lo yang super duper keren itu gak lo buat rekaman sih? Khan lumayan buat penghasilan lo, lo juga pasti bakal tenar. Ehh, lagu-lagu lo ada di i-Pod lo khan?”
“gak ahh, gue gak mau rekaman, males aja gitu. Ada kok, semua lagu gue simpen di i-Pod. Emangnya kenapa?”
“gak papa. Cuma mau minjem. Gue pengen dengerin lagu-lagu lo, hehe. Boleh khan?”
“tentu boleh lah.”
“Btw, tadi permainan lo tambah keren aja, nyentuh banget, dari hati ya?” Cintya hanya tersenyum getir.
“udah deh, Sa. Keluar aja yuk.” Carissa hanya tersenyum memaklumi “ayuk deh.”
Carissa. Carissa Vestanizel Sahabat Cintya sehidup semati. Selalu bersama Cintya sejak kecil. Sehingga Carissa tau sifat Cintya luar dalam. Carissa bersekolah di sekolah yang sama seperti Cintya, satu kelas, satu bangku pula. Carissa sama seperti Cintya, dia cantik, dan juga memiliki segudang prestasi.
Pagi ini matahari telah menampakkan batang hidungnya sehingga Cintya mau tak mau harus bangun karena terkena silau cahaya matahari.
“selamat pagi dunia.” Ucap Cintya saat bangun dari tidurnya
Dengan sedikit maregangkan tubuhnya, Cintya melangkah menuju kamar mandi yang berada di dalam kamarnya. Setelah keluar dari kamar mandi, Cintya merapikan rambutnya yang lurus sebahu dan melapisi kulitnya yang putih dengan bedak tipis. Setelah merasa cukup, Cintya tersenyum melihat bayangannya di cermin. “gue udah siap untuk hari ini, dunia.”
Cintya turun menuju ruang makan. “seperti biasa” gumamnya setelah melihat kursi makan mama papanya kosong di ruang makan. “bi, mama papa udah berangkat ngantor ya?” tanyanya pada bi sumi, pembantu di rumahnya.
“udah, non. Tadi tuan sama nyonya berangkat pagi-pagi. Oiya non, kata tuan, tuan sama nyonya mau pergi ke luar negri. Katanya ada urusan mendadak. Kata tuan, mungkin sekitar dua minggu disana.” Kata bi sumi.
“ohh, yaudah deh, makasih ya bi atas infonya.”
“sama-sama non.” Kata bi sumi sambil tersenyum. ‘non Cintya kasihan. Kurang mendapat perhatian dari tuan dan nyonya’ batin bi sumi. Bi sumi sebenarnya tidak tega melihat Cintya yang kurang mendapat perhatian.
“bi, udah nih sarapannya. Jangan bengong bi, ntar kesambet loh” bi sumi hanya menanggapinya dengan tersenyum.
“non Cintya sudah mau berangkat?” tanya pak dadang, supir keluarga Cintya.
“udah kok pak.” Ucap cintya tersenyum.
“yaudah deh bi, saya berangkat sekolah dulu ya. Dadaah bi” ucap Cintya lagi ke bi sumi.
“hati-hati ya non.” Pesan bi sum “siip bi.” Bibi tersenyum.
Sampai di sekolah, Cintya masuk ke kelasnya yang berada di lantai 2. Saat melangkah masuk kelas, Cintya langsung dihadiahi komentar Carissa tentang lagunya yang ada di i-Pod.
“gilaaaa! Cintya Kintan Piettras! Lagu lo buat gue nangis, keren gilaaaaa!” cintya hanya tersenyum.
“woi woi! Ada apa sih?gak ngajak-ngajak nih?” tanya seseorang.
“hehehe, abisan gue gak lihat lo udah berangkat.” Kata Carissa sambil nyengir.
“jaelaaaah, dasar lo!” ucap orang itu sambil noyor Carissa.
“udahlah Cha,Sa. Gak usah ribut.” Akhirnya Cintya angkat suara.
“abisnya Carissa duluan yang ngajak ribut.” Kata orang itu ngambek.
“yaaah, Acha cantik deh. Gak usah ngambek dong” rayu Carissa.
“iya deh. Gue khan emang cantik, baik hati, pemaaf pula.” Kata orang itu yang ternyata Acha.
“jaelaaaaaaah, narsis lo kambuh-_-“ kata Cintya dan Carissa kompak. Acha Cuma nyengir gaje.
Acha. Achasta Yonalissa. Acha juga sahabat Cintya selain Carissa. Acha sahabatan sama Cintya dan Carissa sejak kelas 4 SD. Acha juga seperti Cintya dan Carissa, memiliki segudang prestasi. Acha lebih suka bermain biola. Gadis manis ini sangat suka pelajaran biologi. Kata Acha, “biologi itu mempelajari tentang alam dan makhluk hidup. Jadi gue bisa mengetahui bagian dari makhluk hidup. Dan gue juga bisa tahu keadaan alam. Kalian berdua khan tau kalo gue pecinta alam”. Acha memang gadis pecinta alam.
“btw, tadi lo berdua ngomongin apaan sih?” tanya Acha yang masih penasaran.
“ngomongin lagunya Cin---aaauuuwww” Carissa belum sempat menyelesaikan perkataannya tapi kakinya keburu diinjak Cintya.
“Cin-aauuw?”
“maksud Carissa itu Cinta Laura.” Kata Cintya
“ohh. Ehh, Sa, daritadi telinga sebelah lo dengerin apaan sih dari tuh i-Pod?”
“lagu lahh.” Kata Carissa sambil asyik dengerin lagu, kali ini , earphone ia gunakan dua-duanya.
“sebelahan dong, gue juga pengen dengerin.”
“nihh” kata Carissa sambil menyodorkan earphone sebelahnya.
TTEEEETTTTTEEEETTTTTTTTTT bel masuk berbunyi
“ahelaaaah. Baru juga mau masang earphone keburu masuk aja” acha ngedumel gak jelas.
“ntar istirahat gue pinjemin” kata Carissa sambil berbisik karena guru sudah ada di depan kelas.
“okeoke”
TTEEEEEEEEEEEETTEEEEEEEEETTTTTTT bel istirahat pertama berbunyi
“YUUUHUUUUU!!” sorak seluruh murid
“wooi Carissa, gue pinjem i-Podnya!”
“iye-iye. Nihh” kata Carissa sambil menyodorkan i-Pod nano biru milik Cintya
“laahh, ini mah bukan i-Pod lo! Ini khan punyanya Cintya!”
“emang. Gue kemaren pinjem i-Podnya. Iya khan, Cin?”
“iyaa” sahut Cintya
Cintya memang irit berbicara, kecuali dengan bi sumi. Karena bi sumi menjadi pembantu keluarga Cintya sejak Cintya masih bayi. Terkadang, Cintya hanya membalas perkataan orang dengan berkata ‘hmm’, iya,atau bahkan hanya tersenyum.
TTTTEEEEEEEEEETTTT bel pulang sekolah sudah berkumandang
“huaaaaaaaaah, akhirnya pulang” kata beberapa murid yang memang sudah bosan mendengarkan cerita masa pra sejarah.
“ehh, Cin, gue pinjem i-Pod lo yaa?” tanya Acha
“boleh kok” kata Cintya sambil tersenyum.
“tengso Cintyaang”
“Cintyoong?”
“maksud gue Cintya sayoong, hehehe” Acha nyengir.
“ada ada aja” ucap Cintya sambil geleng-geleng heran.
“yaudah deh yaa. Gue pulang dulu, daaaaaaaaah” kata Carissa sambil melambaikan tangannya.
“gue juga deh, jemputan udah nunggu. Daaaah Acha” kata Cintya lalu pergi.
“yaah, gue kok jadi sendirian sih? Gue ikutan pulang ahh.” Ucap Acha seraya meninggalkan sekolah.
Sampai rumah, Acha langsung naik ke kamarnya yang berada di lantai 2. Acha langsur berbaring ditempat tidurnya setelah dia berganti pakaian.
“huhhh, capek banget hari ini” kata Acha sambil berbaring-baring.
“hmmm, emangnya lagu yang di i-Podnya Cintya apa aja sih, sampe Carissa nyrocos gitu?”
“daripada penasaran, mending gue buka aja deh tuh i-Pod” gumamnya lagi
Saat Acha memutar lagu, ia tercengang mendengar intro lagu tersebut. ia belum pernah mendengar lagu itu. Lagu itu terasa asing baginya. Namun ia dapat merasakan betapa pedihnya lagu itu. Saat intro itu sepertinya selesai –karena Acha sudah tau pergantian nada,dan ketukan- munculah suara lembut dan halus mendendangkan syair demi syair lagu itu. Yang tentu saja asing di telinga Acha. Namun, Acha sangat mengenali suara itu. Yaa, suara yang sangat akrab di telinganya. Suara itu… suara sahabatnya 4tahun akhir ini.
“jadi yang dimaksud Carissa tadi bukan Cinta Laura, tapi ternyata Cintya” gumamnya.
“ya ampuun, ini lagu dalem banget.” Gumamnya lagi.
Tanpa disadari Acha, air matanya mengalir seakan merasakan isi hati sang penyanyi yang ternyata sahabatnya itu. ‘ya ampun Cintya, sebegitu sakitnya elo, sesakit ini ternyata hati lo, sesepi itukah kehidupan lo’ batinnya sedih.
Oohh tuhaann
Sanggupkah aku
Menghadapi semuaa
Dengan sendiri…ohh sendiri
Acha ikut berdendang karena ia sudah mengulang lagu itu berkali-kali, dan tak ada rasa bosan untuk mendengar lagu itu.
Berikanlah aku kesempatan
Tuk menginginkan
Kehangatan kasih
Ohh kumohoon pada-Mu
Ini saja keinginanku
Tuk menjadi orang yang bahagia
Ohh bahagiaaa… Ini saja mauku…
ku harap kau mengabulkan…pintaku
lagu telah berakhir. Acha segera melepas earphoneyang ia gunakan, lalu mematikan i-Pod biru Cintya itu. Bukannya ia bosan mendengarkan lagu ciptaan Cintya. Tapi, ia hanya tak ingin mendengar lagu selanjutnya yang pasti ia tebak isinya sama, tentang kesepian Cintya. Satu lagu sudah cukup untuk membuat ia menangis.